Solo Traveling ke Nha Trang: Panduan Transportasi dan Objek Wisata Populer

Singgah Tak Terencana di Nha Trang: Ketika Laut, Kota, dan Bukit Bertemu
Setelah tiga hari menikmati dinginnya Da Lat, rencana awal saya sebenarnya sederhana: melanjutkan perjalanan langsung ke Hanoi. Namun, sebuah saran dari kenalan lokal Vietnam mengubah arah perjalanan saya.

“Kalau ada waktu, mampir ke Nha Trang.”

Tanpa itinerary tetap dan tanpa ekspektasi berlebih biasa, saya memutuskan untuk go with the flow. Dan keputusan spontan itu ternyata menjadi salah satu kejutan terbaik dalam perjalanan saya di Vietnam.

Baca juga:


---

Perjalanan Darat yang Nyaman Menuju Nha Trang

Saya memilih perjalanan darat menggunakan bus dari NASA Travel, sebuah agen travel dengan rating tinggi (4.8). Harga tiketnya 229.000 VND—sekitar 146.000 rupiah—cukup terjangkau untuk perjalanan lintas kota.

Salah satu keunggulan NASA Travel adalah stafnya yang fasih berbahasa Inggris, membuat proses komunikasi terasa mudah dan profesional.

Meski jadwal awal tertera pukul 12.15, saya sempat dihubungi mendadak untuk berangkat lebih cepat. Untungnya mereka masih bersedia menunggu, dan saya pun menjadi penumpang terakhir. Keberangkatan dilakukan dari Ga Da Lat (Dalat Train Station).

Begitu naik bus, kami langsung diberi goodie bag sederhana berisi kelapa muda, air mineral, dan tisu basah—sentuhan kecil yang menyenangkan. Perjalanan berlangsung sekitar tiga jam lebih, dengan satu kali pemberhentian di rest area selama 20 menit.


---

Kesan Pertama: “Bali-nya Vietnam”

Hal pertama yang langsung saya sadari saat tiba di Nha Trang adalah satu hal yang cukup mencolok: jumlah turisnya lebih banyak daripada warga lokal.

Di hampir setiap toko, papan nama bertuliskan bahasa Korea, Mandarin, dan Rusia. Nha Trang benar-benar terasa seperti destinasi internasional—tak heran jika banyak orang menyebutnya sebagai “Bali-nya Vietnam.”

"Namun puluhan kali jauh lebih baik dan tertata, terutama warlok yang sama hangatnya pada turis lokal maupun mancanegara"

Cuaca sore itu mendung dan hujan gerimis, sangat kontras dengan Da Lat yang hampir selalu cerah. Karena hujan semakin deras, saya akhirnya mencari hotel lewat Traveloka.

Saya mendapat kamar di kawasan turis dengan harga sekitar 350.000 IDR (545.000 VND) per malam. Lokasinya strategis—tepat di area yang benar-benar hidup. Di sebelah hotel terdapat night market, restoran, dan kafe.
Keuntungan lain menginap di kawasan ini: banyak driver Grab dan pedagang lokal yang bisa berbahasa Inggris, mungkin karena sudah terbiasa menghadapi turis dari berbagai negara.

Namun ada satu hal yang cukup mengejutkan: harga makanan. Jika di Da Lat saya terbiasa makan murah, di Nha Trang harga rata-rata makanan berada di atas 100.000 VND—terutama di area turis. Akhirnya saya memilih makan di tempat yang lebih sederhana, di mana pengunjungnya didominasi warga lokal.


---

Hari Kedua: Sejarah, Spiritualitas, dan Pemandangan Spektakuler

Transportasi dan Kesan Warga Lokal

Hari kedua saya menggunakan Grab sebagai transportasi utama. Menariknya, banyak driver di Nha Trang yang bisa berbahasa Inggris dan terasa lebih ramah dibandingkan di Da Lat—meski ini tentu subjektif.

Catatan kecil: sebagian besar GrabCar di sini tidak menyalakan AC, jadi jendela dibuka sepanjang perjalanan. Untuk yang mudah masuk angin seperti saya, ini perlu diantisipasi.


---

Museum Alexandre Yersin
Destinasi pertama saya adalah Museum Alexandre Yersin. Rasa penasaran membawa saya ke sini—mengapa nama Yersin begitu dihormati di Vietnam?

Alexandre Yersin adalah peneliti Swiss–Prancis yang mendedikasikan hidupnya di Vietnam. Ia dikenal sebagai penemu Da Lat dan diangkat sebagai Honorary Citizen of Vietnam. Tak heran namanya muncul di mana-mana—jalan, sekolah, hingga institusi penelitian.

Museum ini dulunya adalah apartemen beliau. Biaya masuknya 20.000 VND, sederhana namun sarat makna.


---

Po Nagar Cham Towers: Jejak Hindu di Vietnam

Perjalanan berlanjut ke Po Nagar Tower, sebuah kompleks candi Hindu peninggalan Kerajaan Cham. Tempat ini ramai oleh wisatawan dan menerapkan aturan berpakaian sopan: bahu tertutup dan tidak memakai celana pendek.

Biaya masuk 30.000 VND. Menarik rasanya melihat bagaimana jejak Hindu tetap hidup di Vietnam—negara yang kini identik dengan Buddha dan komunisme.


---

Kuliner: Ot Hiem
Untuk makan siang, saya mencoba restoran Vietnam bernama Ot Hiem, dengan rating bagus di Google. Mayoritas pengunjungnya adalah turis Korea. Saya memesan kangkung tumis, mi, dan banh xeo—omelet khas Vietnam. Rasanya cukup memuaskan, meski terasa sudah disesuaikan dengan lidah internasional.


---

Hiking ke Nui Co Tien (Angel Fairyland)

Sore hari menjadi momen paling berkesan.

Saya menuju Nui Co Tien, juga dikenal sebagai Angel Fairyland, menggunakan GrabCar seharga 96.000 VND (berkat diskon subscription). Jalurnya cukup terjal, tapi hari itu cuaca cerah dan tanah kering—sangat membantu.

Hiking ini beginner-friendly, meski tetap disarankan memakai sepatu yang proper. Saya hanya naik sampai bukit pertama dari tiga bukit karena hari mulai gelap.
Dan pemandangannya?
Luar biasa.

Dari atas, terlihat jelas bagaimana Nha Trang menyatukan bukit, kota, dan laut dalam satu lanskap. Di momen itu, saya benar-benar terpukau. Semakin lama di Vietnam, semakin terasa betapa kota-kotanya tertata rapi dan terencana—sebuah kontras yang sulit saya abaikan jika dibandingkan dengan negara tercinta saya.


---

Hari Ketiga: Dari Ketinggian ke Spiritualitas

Infinity Pool di Lantai 40
Hari ketiga saya awali dengan mengunjungi infinity pool hotel di lantai 40. Menariknya, kolam ini berbayar bahkan untuk tamu hotel.

Sightseeing: 60.000 VND

Berenang: 100.000 VND


Pemandangannya luar biasa. Ada satu sudut kolam dengan lantai transparan yang langsung menghadap ke bawah—dan ya, saya tidak cukup bernyali untuk berdiri lama di sana.


---

Banh Mi Phan yang Legendaris
Saya lalu mencoba Banh Mi Phan, tempat yang selalu penuh antrean. Hal paling mengejutkan: ada menu bernama “Indonesia Grilled Chicken Thighs.”

Tanpa ragu saya pesan. Rasanya cukup enak, porsinya besar, tapi ada satu kejutan—abon. Karena hampir semua abon di sini berbahan babi, rasanya jadi kurang autentik “Indonesia”. Meski begitu, banh mi ini tetap lebih flavorful dibandingkan versi di Da Lat.


---

Long Son Pagoda
Destinasi selanjutnya adalah Long Son Pagoda, dengan patung Buddha raksasa yang bisa terlihat dari berbagai sudut kota. Untuk mencapai puncak, saya harus menaiki 189 anak tangga.

Aturan berpakaian tetap berlaku: sopan dan tertutup. Tidak ada biaya masuk. Berdiri di sana memberi rasa tenang yang berbeda—seolah kota di bawah sana bergerak pelan.


---

Katedral Nha Trang
Setelah melihat peninggalan Hindu dan Buddha, saya mengunjungi Nha Trang Cathedral (Nhà thờ Núi). Tiket masuknya 10.000 VND. Penjaganya sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris.

Katedral ini tidak sebesar yang ada di Jakarta atau Manila, namun arsitektur kolonial Prancisnya memberikan pesona yang hangat dan intim.


---

Malam Terakhir di Tepi Laut
Malam terakhir saya habiskan dengan berjalan santai di sepanjang pantai. Di taman pinggir laut tersedia alat-alat gym terbuka yang membuat saya betah berlama-lama.

Udara Nha Trang sangat nyaman—sekitar 25°C. Ironisnya, Bandung saat itu terasa jauh lebih panas.


---

Penutup: Nha Trang, Kejutan yang Tak Terlupakan
Atau lebih tepatnya setiap tempat di vietnam ini banyak sekali kejutannya.

Nha Trang bukan sekadar kota pantai. Ia adalah pertemuan harmonis antara laut, bukit, sejarah, dan kehidupan modern. Saya datang tanpa rencana, namun pulang dengan kesan mendalam.

Jika kalian berencana ke Vietnam, masukkan Nha Trang ke dalam daftar. Kota ini membuktikan bahwa perjalanan terbaik sering kali lahir dari keputusan paling spontan.

Xin chào, Nha Trang. Sampai jumpa lagi.
Dan tunggu cerita cerita unik saya selama di vietnam.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitchhiking Kamboja ke Laos: Perjalanan Darat Super Hemat Mencari Jati Diri di Usia 30-an

Menuju Phou Bia: Perjalanan Spontan ke Gunung Tertinggi Laos yang Belum Banyak Diketahui

Vientiane Laos, Ibu Kota yang Nyaman namun Tidak Menggugah untuk Dikunjungi Kembali