Ho Chi Minh City, Vietnam: Kota Pembuka di Negara Terakhir ASEAN, dalam Pencarian Jati Diri di Usia 30
Ho Chi Minh City, Vietnam: Kota Pembuka di Negara Terakhir ASEAN, dalam Pencarian Jati Diri di Usia 30
Vietnam adalah negara terakhir di daratan Asia Tenggara yang saya kunjungi. Bukan tanpa alasan. Perjalanan panjang ini—lintas negara, lintas budaya, lintas zona nyaman—saya jalani sebagai bagian dari pencarian jati diri di usia 30. Usia yang bagi sebagian orang terasa biasa saja, tapi bagi saya justru penuh pertanyaan: tentang arah hidup, tentang makna berjalan jauh, dan tentang apa arti “pulang”.
Dan dari seluruh kota di Vietnam, Ho Chi Minh City (HCM) adalah kota pembuka—tempat pertama yang saya pijak di negara terakhir perjalanan ASEAN ini.
---
Dari Bangkok ke Ho Chi Minh City
Saya berangkat dari Bangkok menggunakan jalur udara. Setelah berbulan-bulan berpindah kota di Asia Tenggara, rute ini terasa singkat, hampir seperti berpindah distrik, bukan berpindah negara. Namun begitu pesawat mendarat, perasaan itu langsung berubah.
Ho Chi Minh City menyambut saya dengan caranya sendiri: cepat, bising, padat—namun hidup.
Bandara Tan Son Nhat memang tidak semegah bandara di negara maju, tetapi alurnya jelas. Begitu keluar bandara, udara kota besar langsung terasa: hangat, sedikit lembap, dan dipenuhi suara klakson yang nyaris tak pernah berhenti.
---
Kesan Pertama: Metropolitan yang Masih Mentah
Kesan pertama saya tentang Ho Chi Minh City adalah satu kata: mentah.
Bukan mentah dalam arti negatif, melainkan kota metropolitan yang sedang tumbuh, bereksperimen, dan mencari bentuk terbaiknya. Gedung-gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan bangunan tua peninggalan kolonial Prancis. Jalan besar dipenuhi motor, tetapi di sudut-sudut tertentu masih ada taman kota yang rapi dan bersih.
Saat itu saya langsung terpikir satu hal:
Dalam beberapa tahun ke depan, Ho Chi Minh City bisa saja menjadi kota yang lebih maju dan lebih nyaman daripada Jakarta.
Pembangunannya terasa agresif, tetapi belum sepenuhnya menyesakkan. Masih ada ruang bernapas. Kota ini seperti remaja tanggung—energinya besar, potensinya luas, dan arahnya masih bisa dibentuk.
---
Kota Besar yang Murah (Bahkan untuk Kelas Menengah Indonesia)
Hal lain yang paling terasa di Ho Chi Minh City adalah biaya hidup yang relatif murah.
Sebagai orang Indonesia, khususnya dari kota besar, saya cukup terkejut. Makan enak, minum kopi berkualitas, transportasi, hingga penginapan—semuanya terasa ramah di kantong. Untuk standar kelas menengah Indonesia, hidup di HCM terasa lebih ringan.
Makan di restoran lokal tidak membuat dompet cemas. Kopi spesialti tetap masuk akal. Bahkan coworking space dan kafe estetik yang biasanya mahal di kota besar lain, di sini terasa lebih bersahabat.
Murah bukan berarti murahan. Justru sering kali kualitasnya melampaui ekspektasi.
---
Surga Kopi dan Budaya Nongkrong
Jika ada satu hal yang benar-benar menonjol dari Ho Chi Minh City, itu adalah kopi.
Kota ini dipenuhi kedai kopi—dari warung kecil di gang sempit hingga coffee shop modern bertingkat dengan konsep industrial. Vietnam sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia benar-benar terasa dampaknya di sini.
Duduk berjam-jam di kafe bukan hal aneh. Orang bekerja, mengobrol, melamun, atau sekadar menatap lalu lintas. Saya pun sering larut di sana—menulis catatan perjalanan, merenungkan hidup, atau hanya diam tanpa tujuan.
Ada sesuatu yang menenangkan dari budaya kopi di kota ini.
---
Gedung Tinggi, Sungai, dan Taman Kota
Secara visual, Ho Chi Minh City cukup menarik. Gedung pencakar langit modern menjulang, terutama di area pusat bisnis. Di sisi lain, Sungai Saigon membelah kota dan memberi kesan lega di tengah kepadatan.
Di beberapa titik, taman kota tertata rapi. Tidak selalu besar, tetapi cukup untuk memberi ruang hijau—tempat orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk.
Perpaduan gedung tinggi, sungai, dan ruang terbuka membuat HCM terasa lebih seimbang daripada bayangan saya sebelumnya.
---
Macet, Tapi Transportasi Mulai Berbenah
Ya, Ho Chi Minh City macet. Motor mendominasi jalan, klakson bersahutan, dan menyeberang jalan membutuhkan keberanian—mirip Jakarta beberapa tahun lalu.
Namun bedanya, saya melihat tanda-tanda perubahan. Transportasi publik mulai dibenahi. Infrastruktur terus dikembangkan. Ada kesan bahwa kota ini belajar dari kota-kota besar lain yang lebih dulu “kelelahan”.
Belum sempurna, tetapi arahnya terlihat jelas.
---
Mirip Jakarta, Tapi Dengan Rasa yang Berbeda
Bagi orang Indonesia—terutama yang pernah lama tinggal di Jakarta—Ho Chi Minh City bukan pengalaman yang sepenuhnya asing. Ada kemiripan: kemacetan, hiruk-pikuk, pertumbuhan cepat, dan kontras sosial.
Namun tetap saja, rasanya berbeda.
Entah karena bahasa, ritme hidup, atau karena HCM adalah kota pembuka di negara terakhir dalam perjalanan panjang ini. Kota ini terasa seperti cermin—memantulkan apa yang Jakarta pernah alami, dan mungkin akan alami lagi.
Di usia 30, berada di kota seperti ini membuat saya berpikir tentang waktu, pilihan, dan ke mana arah hidup ini bergerak.
---
Penutup: Kota Pembuka di Negara Terakhir
Ho Chi Minh City bukan kota yang langsung membuat saya jatuh cinta. Justru di situlah daya tariknya. Ia tumbuh perlahan di pikiran, bukan meledak di emosi.
Sebagai kota pembuka di Vietnam, sekaligus negara terakhir di daratan ASEAN yang saya kunjungi, HCM menjadi awal yang tenang sekaligus penutup yang bermakna. Kota yang sedang mencari bentuk—seperti saya yang sedang mencari arah.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Komentar
Posting Komentar