Jatuh Cinta Lagi dan lagi || Perjalanan solo backpacker di Hanoi Vietnam
Jatuh Cinta Lagi dan lagi || Perjalanan solo backpacker di Hanoi Vietnam
Perjalanan Darat dari Da Nang dan Kota Tua yang Membuat Waktu Melambat
Ada perjalanan yang direncanakan dengan presisi di atas kertas. Namun, ada pula perjalanan yang lahir karena jiwa kita merasa sudah cukup diam di satu tempat.
Setelah menikmati hari-hari yang tenang di Da Nang, saya menyadari satu hal: saya belum ingin pulang. Ada kerinduan yang mendesak untuk melihat sisi lain Vietnam. Maka, tanpa banyak ragu, saya memutuskan melanjutkan petualangan ke utara—menuju Hanoi.
Kali ini saya memilih jalur darat, bukan pesawat. Saya ingin merasakan setiap jengkal jarak, perpindahan waktu, dan perubahan wajah kota secara perlahan.
---
Melipat Jarak di Atas Sleeping Bus: 16 Jam Mencari Diri
Saya berangkat dari Da Nang menggunakan sleeping bus. Bagi sebagian orang, duduk belasan jam di bus mungkin terdengar melelahkan. Namun bagi saya, ini justru terasa seperti meditasi yang bergerak.
Tarif & Durasi
Tiket seharga 450.000 VND (sekitar Rp280.000) membawa saya menempuh perjalanan sekitar 16 jam—harga yang cukup standar untuk rute lintas kota jarak jauh di Vietnam.
Ruang di Balik Jendela
Enam belas jam bukan waktu yang singkat. Di dalam kabin bus yang sempit, saya ditemani suara mesin yang konstan sebagai latar. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, berganti dengan gelapnya persawahan dan garis pantai yang samar di balik jendela.
Perjalanan darat seperti ini memberi saya kemewahan yang jarang didapatkan di kota besar: ruang untuk tidak memikirkan apa pun. Saya tidur, terbangun, lalu kembali terdiam menatap gelap.
---
Hanoi: Kota Tua yang Berdamai dengan Usianya
Begitu bus memasuki Hanoi, suasananya langsung terasa kontras. Jika Saigon (Ho Chi Minh City) terasa cepat dan penuh ambisi, Hanoi justru terasa seperti kota yang sudah berdamai dengan usianya.
Ia tidak mencoba terlihat modern; ia hanya berdiri apa adanya.
Ruko-ruko tua berjajar dengan cat kuning yang memudar. Kabel listrik menggantung semrawut di udara, seperti benang kusut yang menyimpan ribuan cerita. Hanoi tidak rapi, tapi ia sangat hidup. Tidak sempurna, namun terasa jujur. Di sini, waktu seolah memberi izin bagi penghuninya untuk bernapas lebih lama.
---
Menemukan Makna Rasa di Semangkuk Pho dan Kopi Trotoar
Makanan di Hanoi memiliki karakter yang sederhana, namun “dalam”.
Saya menyempatkan diri ke Pho 10 Ly Quoc Su, salah satu tempat pho legendaris. Kuahnya jernih, aromanya bersih, dan rasanya tidak berisik. Tidak ada bumbu yang mendominasi—semuanya seimbang. Ini jenis makanan yang membuat kita terdiam sejenak setelah suapan pertama.
Ada pula Banh Mi Mama yang tersohor. Roti renyah dengan isian padat, dinikmati sambil berdiri di pinggir jalan. Sederhana, tapi meninggalkan kesan yang kuat.
Tak lengkap berbicara tentang Hanoi tanpa menyebut kopinya. Dengan harga 15.000–25.000 VND, secangkir kopi hitam yang kuat menjadi alasan untuk berhenti sejenak. Duduk di kursi plastik kecil setinggi lutut, menyaksikan lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti, saya merasa tidak ada yang memaksa saya untuk segera pergi. Waktu di Hanoi berjalan dengan ritmenya sendiri.
---
Danau Hoan Kiem: Oase Kesunyian di Jantung Kekacauan
Jika Hanoi adalah sebuah lagu yang riuh, maka Danau Hoan Kiem adalah jeda sunyi di tengah-tengahnya.
Di sinilah momen paling berkesan bagi saya: menikmati ketenangan yang nyaris absolut di tengah kota yang sangat padat.
Saya menghabiskan waktu berjam-jam duduk di bangku kayu di bawah rindangnya pohon dengan dahan menjuntai menyentuh air. Meski dikelilingi jalan utama dengan suara klakson motor yang riuh, semua itu seolah teredam ketika saya mendekat ke tepi danau.
Saya memperhatikan kakek-nenek yang berlatih Tai Chi dengan anggun, serta anak-anak muda yang melamun menatap Menara Penyu (Tháp Rùa) di tengah air. Saat senja turun dan kabut tipis mulai menggantung, saya benar-benar menemukan ketenangan. Di kota yang tua dan padat ini, ada satu titik di mana saya bisa mendengar pikiran saya sendiri.
---
Penutup: Rasa yang Tertinggal
Vietnam memiliki banyak kota menarik, namun Hanoi punya caranya sendiri untuk diingat. Ia tua namun hangat, ramai namun tidak menekan, sederhana namun penuh rasa.
Hanoi bukan kota yang langsung memikat pada pandangan pertama. Ia adalah kota yang perlahan—melalui aroma, suara, dan ketenangan danaunya—menetap, lalu tinggal selamanya di hati.
Komentar
Posting Komentar