Panduan Perjalanan Uzbekistan 2026: Saat Perjalanan Menjadi Lebih Pelan dan Mengapa Anda Tak Boleh Menunda Ke Sini

Catatan Perjalanan Uzbekistan 2026: Menemukan Ritme yang Lebih Pelan setelah Kazakhstan


Setelah menghabiskan waktu di Kazakhstan dengan bentang alamnya yang liar dan luas, saya tiba di titik jenuh secara visual. Rasa takjub saya sudah penuh. Saat itu, yang saya cari bukan lagi kejutan, melainkan tempat untuk bernapas dan bergerak lebih tenang.

Uzbekistan datang di waktu yang sangat tepat. Negara ini tidak mencoba memukau saya dengan kemegahan yang meledak-ledak sejak menit pertama. Sebaliknya, ia mengajak saya untuk berjalan lebih pelan, lebih sadar, dan benar-benar hadir di setiap langkahnya.

Mendarat di Tashkent: Kemudahan yang Tak Disangka


Saya mendarat di Bandara Internasional Islam Karimov, Tashkent, tanpa ekspektasi tinggi. Sebagai pemegang paspor Indonesia, saya cukup melangkah ke konter imigrasi tanpa harus pusing memikirkan visa—karena kita memang bebas visa.

Prosesnya terasa sangat manusiawi. Tidak ada tumpukan formulir, tidak ada sesi tanya jawab yang mengintimidasi soal tiket pulang atau bukti booking hotel. Hanya suara stempel yang beradu dengan kertas paspor, lalu selesai. Begitu keluar dari bandara, udara Desember yang dingin menyambut, namun suasananya terasa hangat dan tidak merepotkan.


Akomodasi di Tashkent

Saya menginap di:

Art Dream Hotel

Tarif: USD 25/malam (termasuk sarapan)

Stasiun metro terdekat: Oybek & Kosmonavtlar

Kelebihan:

Lokasi cukup strategis, dekat bandara dan Stasiun Kereta Tashkent Central

Kamar bersih, bangunan baru selesai renovasi

Tempat tidur nyaman, perlengkapan mandi dan kamar lengkap

Sarapan cukup variatif untuk ukuran hotel budget


Kekurangan:

Hotel baru beroperasi dan hanya menerima pembayaran tunai

Lokasi cukup jauh dari warung atau restoran lokal

Staf kurang kooperatif saat diminta bukti registrasi e-mehmon, yang ternyata tidak didaftarkan


Destinasi Wisata di Tashkent

Selama di Tashkent, saya mengunjungi beberapa tempat utama berikut:

1. Amir Temur Square & Hotel Uzbekistan

2. Chorsu Bazaar & Madrasah Kukeldash

3. Kompleks Hazrati Imam (Khast Imam)

4. Stasiun-stasiun Metro Tashkent, minimal:

Alisher Navoiy

Kosmonavtlar

Metro Tashkent sendiri merupakan salah satu daya tarik kota ini karena desain stasiunnya yang unik dan artistik.


Rute Efisien Explore Tashkent (Sekali Jalan)

Karena keempat objek wisata di atas lokasinya cukup berjauhan, berikut rute paling efisien jika ingin menjelajah dalam satu hari:

1. Mulai dari Amir Temur Square & Hotel Uzbekistan (asumsi lokasi terdekat dari hotel)

2. Masuk Stasiun Metro Amir Temur, tepat di samping Hotel Uzbekistan (Line Merah)

3. Turun di Stasiun Paxtakor (stasiun transit)

4. Pindah ke Stasiun Alisher Navoiy (Line Biru)

5. Lanjutkan perjalanan ke Stasiun Chorsu

6. Eksplor Chorsu Bazaar & Madrasah Kukeldash

Jangan lewatkan mencicipi plov dan shashlik di restoran lokal sekitar bazaar

7. Naik taksi menuju Kompleks Hazrati Imam

8. Kembali ke Stasiun Metro Chorsu atau Gofur Gulom

9. Naik metro menuju Stasiun Kosmonavtlar

10. Kembali ke hotel


Catatan Penting Selama Naik Metro

1. Tarif metro sebesar 3.000 som jika membeli tiket langsung di stasiun

Jika membeli lewat mesin tiket otomatis, uang yang dimasukkan tidak mendapat kembalian tunai. Penumpang diminta memasukkan nomor HP lokal untuk menerima kembaliannya (saya sendiri belum tahu bentuknya, kemungkinan berupa pulsa atau saldo digital).

2. Toilet di stasiun metro sangat jarang

Saya hanya menemukan toilet di Stasiun Paxtakor, kemungkinan karena stasiun ini merupakan stasiun transit dengan volume penumpang lebih besar.

Berpindah Kota: Drama Tiket dan Kecepatan Kereta


Selama 10 hari (9–20 Desember 2025), saya melintasi rute Tashkent – Bukhara – Samarkand – Chimgan. Satu hal yang paling membekas dalam ingatan saya adalah bagaimana negara ini mengelola pergerakan manusianya melalui rel kereta.

Saya sempat mencoba tiga kasta kereta mereka: Afrosiyob yang modern dan melesat cepat, Kereta Ekspres yang stabil, hingga Sleeper Train yang memberikan pengalaman tidur di atas rel yang syahdu.

Namun, ada satu pelajaran penting: Jangan pernah menunda membeli tiket. Harga tiket kereta di sini sangat murah—mungkin terlalu murah bagi traveler internasional—sehingga sering sekali sold out. 

Saya beruntung sudah memesannya dua minggu sebelum berangkat melalui aplikasi Uzrailways Tickets menggunakan kartu kredit BNI Visa. Jika Anda telat sehari saja, rencana perjalanan Anda bisa berantakan.




Suasana Kota: Modern Tanpa Harus Berisik
Uzbekistan memiliki karakter kota yang unik. Tashkent terasa seperti kota modern yang tahu cara menjaga ketenangan. Bukhara membawa saya ke dalam kesunyian yang magis tanpa rasa kesepian, sementara Samarkand berdiri dengan megah tanpa perlu berteriak pamer.

Di sini, saya tidak merasa dikejar oleh waktu. Tidak ada tekanan untuk segera mengeluarkan kamera dan memotret semuanya. Uzbekistan memberikan saya ruang untuk duduk diam di sudut kota, melihat orang lokal berlalu-lalang, dan menikmati struktur bangunan yang membumi namun tertata rapi.

Tantangan Teknis: Dari Yandex hingga Urusan "Registrasi"

Tentu, perjalanan ini bukan tanpa tantangan kecil yang menguji kesabaran.

Pertama soal Yandex Go. Di Uzbekistan, taksi online adalah penyelamat dompet. Namun, aplikasi ini "rewel" jika diaktivasi dengan nomor Indonesia. Saya baru bisa menggunakannya setelah membeli SIM Card lokal di bandara. Saran saya: Beli SIM Card segera saat Anda mendarat. Mencari gerai provider di pusat kota jauh lebih rumit daripada yang Anda bayangkan.

Kedua, soal aturan e-Mehmon (Registrasi Turis). Ini adalah bagian yang paling membingungkan sekaligus krusial. Aturannya, jika tinggal lebih dari 3 hari, kita wajib terdaftar. Hotel pertama saya di Tashkent sempat lalai mendaftarkan saya. Beruntung, hotel di Bukhara sangat sigap.

Setiap kali saya check-out, saya selalu meminta Registration Slip berbentuk fisik. Mengapa? Karena denda jika kita gagal menunjukkan bukti registrasi saat di imigrasi bandara bisa mencapai USD 1.000. Meski sistem mereka sudah online, memegang kertas bukti fisik jauh lebih menenangkan hati.

Komunikasi di Negeri yang Berbahasa Rusia
Jangan berharap banyak pada Bahasa Inggris. Di sini, Bahasa Rusia dan Uzbek adalah raja. Saya seringkali harus "berperang" dengan aplikasi translator saat menawar harga di pasar, berbicara dengan sopir taksi, atau sekadar mencari stasiun yang tepat di Metro Tashkent yang legendaris itu.
Namun, di situlah letak seninya. Ketidakpahaman bahasa justru memaksa saya untuk lebih sadar dan memperhatikan sekitar.

Penutup: Bukan Cinta yang Instan, Tapi Teman Perjalanan


Uzbekistan
mungkin tidak membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama seperti Kazakhstan yang megah. Ia tidak langsung memeluk saya dengan hangat. Ia lebih seperti teman lama yang menemani berjalan dalam diam, namun kehadirannya sangat terasa.

Ia mengajarkan saya satu hal: tidak semua perjalanan harus dilakukan dengan terburu-buru untuk mendapatkan makna. Kadang, perjalanan yang "pelan" justru menyisakan kenangan yang paling dalam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitchhiking Kamboja ke Laos: Perjalanan Darat Super Hemat Mencari Jati Diri di Usia 30-an

Menuju Phou Bia: Perjalanan Spontan ke Gunung Tertinggi Laos yang Belum Banyak Diketahui

Vientiane Laos, Ibu Kota yang Nyaman namun Tidak Menggugah untuk Dikunjungi Kembali