Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Sukhothai: Kembali ke Awal Peradaban Thailand, Setelah Ayutthaya

Gambar
Sukhothai: Kembali ke Awal Peradaban Thailand, Setelah Ayutthaya Setelah Ayutthaya, saya justru merasa perlu mundur lebih jauh ke belakang. Bukan ke Bangkok. Bukan ke kota besar lain. Melainkan ke Sukhothai—tempat di mana sejarah Thailand pertama kali benar-benar dimulai. Jika Ayutthaya adalah simbol kejayaan dan kehancuran, maka Sukhothai adalah kelahiran. Dan dalam perjalanan mencari jati diri di usia 30-an, kembali ke awal sering kali terasa lebih jujur daripada mengejar puncak. Sukhothai, Ibu Kota Pertama Kerajaan Thai Secara historis, Sukhothai adalah ibu kota pertama Kerajaan Thailand pada abad ke-13. Di sinilah konsep negara Thai, bahasa, aksara, agama, dan sistem pemerintahan mulai dibentuk. Berbeda dengan Ayutthaya yang kosmopolitan dan penuh pengaruh asing, Sukhothai terasa lebih murni. Lebih sederhana. Lebih dekat dengan akar. Tak heran jika Sukhothai sering disebut sebagai “dawn of happiness”—awal dari kebahagiaan. Kesan Pertama: Sepi, Lapang, dan Ti...

Ayutthaya: Kota Reruntuhan yang Menenangkan.

Gambar
Ayutthaya: Kota Reruntuhan yang Menenangkan. Perjalanan ini adalah bagian dari rangkaian pencarian jati diri saya di usia 30-an, sebuah fase hidup yang entah kenapa membuat saya lebih tertarik pada tempat-tempat sunyi, tua, dan penuh sisa sejarah. Setelah berkeliling beberapa negara di Asia Tenggara, Ayutthaya, Thailand, menjadi salah satu kota yang paling berkesan—bukan karena gemerlapnya, justru karena ketenangannya. Ayutthaya, Bukan Sekadar Kota Wisata Sehari Banyak orang datang ke Ayutthaya hanya sebagai day trip dari Bangkok. Datang pagi, foto-foto candi, lalu sore kembali ke hiruk-pikuk ibu kota. Saya justru memilih sebaliknya: tinggal lebih lama, berjalan lebih pelan. Ayutthaya adalah bekas ibu kota Kerajaan Siam selama lebih dari 400 tahun. Kota ini pernah menjadi salah satu yang terkaya dan terkuat di Asia Tenggara, sebelum akhirnya hancur akibat invasi Burma pada abad ke-18. Kini yang tersisa adalah reruntuhan candi, patung Buddha tanpa kepala, dan tembok bata mer...

Plain of Jars, Laos: Visiting One of Southeast Asia’s Most Mysterious Ritual Sites

Gambar
Plain of Jars, Laos: Visiting One of Southeast Asia’s Most Mysterious Ritual Sites Traveling in Laos often feels like stepping away from the modern world. But nowhere did I feel that distance more strongly than at the Plain of Jars, a vast and silent archaeological landscape in Xieng Khouang Province. This is not a place that entertains you. It doesn’t try to impress. It simply waits. And that is exactly why it stays with you. --- What Is the Plain of Jars? (Quick Explanation) The Plain of Jars is an ancient archaeological site where thousands of massive stone jars are scattered across hills and open fields. These jars were carved from solid stone and are believed to date back to 500 BC – 500 AD. Some jars are as tall as an adult human. Others weigh several tons. No written records explain who built them or why. In 2019, the site was officially recognized as a UNESCO World Heritage Site, confirming its global cultural importance. --- Why I Believe the Plain of J...

Menuju Phou Bia: Perjalanan Spontan ke Gunung Tertinggi Laos yang Belum Banyak Diketahui

Gambar
Tersesat yang Direncanakan: Perjalanan Spontan Menuju Phou Bia, Puncak Tertinggi Laos Perjalanan ini tidak pernah benar-benar direncanakan. Keinginan menuju Phou Bia, gunung tertinggi di Laos (±2.820 mdpl), muncul begitu saja—spontan, tanpa persiapan matang, dan nyaris tanpa informasi jelas. Phou Bia berada di Provinsi Xaysomboun, wilayah yang lama tertutup karena termasuk UXO zone, area dengan sisa ranjau perang Vietnam. Sampai hari ini, gunung ini belum resmi dibuka untuk wisata, membuat akses dan informasinya sangat minim. Bahkan bagi warga lokal, Phou Bia bukan destinasi yang umum dibicarakan. Ini juga pertama kalinya saya ke Laos. Modal saya hanya Google Maps, motor sewaan, dan rasa penasaran. Peluang tersesat lebih besar daripada peluang berhasil, tapi justru itu yang membuat perjalanan ini terasa perlu dijalani. Secara tidak sengaja, perjalanan ini menjadi lebih berwarna ketika roommate hostel saya di Vang Vieng, Darell—seorang pelancong asal Tajikistan—memutuskan ik...

Berhenti Sejenak di Luang Prabang

Gambar
Luang Prabang, Tempat Tenang untuk Rehat Sejenak dari Rutinitas Pertama kali tiba di Luang Prabang, saya tidak merasakan sensasi yang meledak-ledak. Tidak ada kesan “wah” yang langsung menyergap. Yang ada justru rasa tenang yang pelan-pelan meresap. Luang Prabang adalah tempat yang cocok untuk rehat sejenak, terutama bagi siapa pun yang merasa lelah dengan ritme hidup yang terlalu cepat. Saya datang tanpa ekspektasi tinggi. Hanya ingin singgah sebentar, bernapas lebih panjang, dan mendapatkan sebotol beer. Ritme Kota yang Bergerak Pelan Luang Prabang adalah kota kecil. Jalanannya sempit, bangunannya rendah, dan aktivitas warganya tidak terburu-buru. Sejak pagi, suasana sudah terasa berbeda. Tidak ada kemacetan, tidak ada suara klakson yang saling bersahutan. Pagi hari biasanya dimulai dengan ritual para biksu yang berjalan menerima sedekah. Saya tidak ikut mendekat, hanya mengamati dari kejauhan. Suasananya hening dan tertib. Bukan tontonan, melainka...

Vientiane Laos, Ibu Kota yang Nyaman namun Tidak Menggugah untuk Dikunjungi Kembali

Gambar
Vientiane, Ibu Kota yang Nyaman namun Tidak Cukup untuk Kembali Vientiane adalah ibu kota Laos yang sering luput dari radar wisatawan Asia Tenggara. Tidak seramai Bangkok, tidak semegah Hanoi, dan jelas jauh dari hiruk pikuk Phnom Penh. Kota ini tenang, datar, dan berjalan pelan—terlalu pelan bagi sebagian orang. Saya singgah di Vientiane bukan untuk liburan mewah, melainkan sebagai bagian dari rangkaian perjalanan panjang menyusuri Asia Tenggara. Dan setelah beberapa hari di sana, satu kesimpulan muncul dengan jujur: Vientiane nyaman, tapi tidak cukup meninggalkan alasan kuat untuk kembali. Kesan Pertama: Kota yang Tidak Terburu-buru Begitu tiba di Vientiane, suasana sunyi langsung terasa. Jalanan lebar, kendaraan sedikit, dan tidak ada tekanan untuk bergerak cepat. Bahkan klakson pun terdengar seperti sesuatu yang tidak penting di kota ini. Bagi pelancong yang lelah dengan kota besar, Vientiane terasa seperti tempat istirahat. Tidak ada tuntutan, tidak ada distraksi berle...

Hitchhiking Kamboja ke Laos: Perjalanan Darat Super Hemat Mencari Jati Diri di Usia 30-an

Gambar
Hitchhiking Kamboja ke Laos: Perjalanan Darat Super Hemat Mencari Jati Diri di Usia 30-an Perjalanan darat lintas negara di Asia Tenggara selalu memberi ruang untuk refleksi. Bukan hanya soal berpindah dari satu negara ke negara lain, tapi tentang apa yang tersisa ketika rencana habis, uang menipis, dan usia tidak lagi muda. Di usia 30-an, saya melakukan perjalanan hitchhiking dan menyeberang land border dari Kamboja ke Pakse, Laos. Sebuah perjalanan super hemat, penuh risiko, dan sarat pelajaran—bukan untuk semua orang, tapi sangat relevan bagi mereka yang sedang mencari arah hidup. Ini bukan panduan wisata. Ini cerita perjalanan mencari jati diri di ASEAN, lewat jalan yang panas, sepi, dan tidak selalu ramah. --- Hitchhiking dari Stung Treng ke Perbatasan Laos Perjalanan dimulai dari Stung Treng, Kamboja, menuju perbatasan Nok Nong (Kamboja–Laos). Di titik ini, saya memutuskan mencoba hitchhiking. Keputusan yang terdengar nekat, apalagi dilakukan di usia 30-an—saat banyak orang justr...

Bagan, Myanmar: Keheningan Magis di Negeri Seribu Candi

Gambar
Bagan, Myanmar: Keheningan Magis di Negeri Seribu Candi Ada tempat di dunia yang tidak sekadar dikunjungi, tapi dirasakan. Bagan, di Myanmar, adalah salah satunya. Bagi saya, minimal sekali seumur hidup, manusia perlu datang ke Bagan—bukan untuk foto semata, tapi untuk diam, melamun, dan mempertanyakan diri sendiri. Bagan: Warisan Agung yang Bertahan dalam Sunyi Bagan adalah hamparan ribuan candi kuno yang berdiri di tengah dataran luas Myanmar. Di masa kejayaannya (abad ke-9 hingga ke-13), wilayah ini menjadi pusat peradaban dan spiritualitas besar di Asia Tenggara. Berjalan di antara candi-candi Bagan menghadirkan satu perasaan yang sulit dijelaskan: tenang, megah, dan sangat jujur. Tidak ada hiruk-pikuk seperti destinasi wisata populer lainnya. Tidak ada distraksi berlebihan. Hanya angin panas, tanah kering, dan siluet candi yang seolah menolak untuk dilupakan oleh waktu. Ketenangan yang Membuat Kita Berkaca Bagan bukan tempat untuk terburu-buru. Justru di si...

Sepenggal Cerita Sore di Angkor Wat, Kamboja

Gambar
Menikmati Sore Hari di Angkor Wat: Perjalanan Tanpa Rencana di Kamboja Liburan bulan Februari lalu saya jalani tanpa rencana yang jelas. Tidak ada itinerary harian, tidak ada target harus ke mana jam berapa. Perjalanan ini murni mengikuti kaki dan rasa—bergerak ketika ingin, berhenti ketika perlu. Dari satu negara ASEAN ke negara lain, saya membiarkan perjalanan itu sendiri yang menentukan arah. Di tengah alur tanpa planning itu, saya sampai di Kamboja. Negara yang sejak awal justru paling membuat saya waspada. Kamboja: Antara Framing Media dan Realita Wisata Sebelum datang, Kamboja sering digambarkan media sebagai negara yang “rawan”: kemiskinan ekstrem, penipuan turis, hingga isu keamanan. Framing seperti ini membuat Kamboja terasa lebih menegangkan dibanding negara ASEAN lain yang saya lewati. Namun realitanya berbeda. Selama tujuan datang adalah liburan, bukan kerja, bukan urusan abu-abu, dan fokus di kota wisata seperti Siem Reap, Kamboja terasa normal—bahk...

Masuk Myanmar di Tengah Junta Militer: Pengalaman Wisata Yangon 2024

Gambar
Apakah Wisata Myanmar Aman? Berikut informasi Wisata Yangon berdasarkan pengalaman saya di tahun 2024. Apakah ada yang kepikiran jalan-jalan ke Myanmar yang saat ini masih berada di bawah rezim junta militer? Bagi sebagian traveler pencari pengalaman ekstrem, mengunjungi negara yang masih mengalami konflik internal justru memicu adrenalin dan sensasi tersendiri. Disclaimer: Saya tidak mendukung kekuasaan junta militer Myanmar yang tidak demokratis dan sarat pelanggaran HAM. Tulisan ini juga merupakan bentuk solidaritas saya kepada para pejuang demokrasi Myanmar. Belasungkawa mendalam untuk masyarakat sipil tak berdosa yang gugur di tangan militer negaranya sendiri. Semoga Myanmar segera kembali menjadi negara yang demokratis dan damai sepenuhnya. --- Masuk ke Myanmar (Visa & Imigrasi) WNI dapat masuk ke Myanmar bebas visa selama 14 hari, dengan catatan masuk dan keluar melalui bandara internasional di: Yangon (RGN) Naypyidaw Mandalay ⚠️ Perbatasan darat tidak bisa digunakan jika ha...